It s about my ordinary life in my new land….
Suatu sore, aku sedang berjalan dengan satu orang Jerman yang pandai berbahasa Indonesia (penduduk Koln bisa nebak deh sapa orangnya), sebutlah Si Y. Sepanjang perjalanan kami mengobrol dengan bahasa Indonesia karena dia mau praktik kecanggihan bahasa Indonesia dia dan aku terlalu malas berbicara dalam bahasa Jerman (karena nggak bisa juga denk).
Tiba-tiba salah satu temanku yang lain lewat, sebutlah Si B. Dia juga orang Jerman, pernah ambil 1 semester di Jogja, tapi tidak bisa bahasa Indonesia. Setelah berhaha-hihi sebentar aku memperkenalkan mereka & aku bilang bahwa Si B ini salah satu temanku yang kemarin kuliah 1 semester di Jogja.
Si Y dg otomatis mengeluarkan jurus-jurusnya dalam bahasa Indonesia sementara si B bingung karena tidak mengerti. Yang payahnya lagi, si Y sedikit kesulitan mencari kata-kata untuk mengobrol dalam bahasa Jerman. Sementara aku???? Lagi bingung juga, apa perlu aku menerjemahkan dialog mereka ke dalam bahasa Jerman sementara mereka berdua orang Jerman??????
Akhirnya pindah channel ke bahasa Inggris & semua kembali senang…….
Btw, aku baru tahu lho, ternyata bahasa Indonesia itu resminya disebut Bahasa. Norak ya?!
Pertama denger waktu aku di Jogja: “I want to learn Bahasa!” Eh, mau pingsan juga dengernya. Penasaran karena para professor di sana pun sering mengucapkan: “Do you speak Bahasa?”, akhirnya aku cek di Internet, ternyata Bahasa itu identik penggunaannya dengan Deutsch, English, usw. Keren juga……Tapi dasar dusun, aku masih belum terbiasa sehingga masih menggunakan istilah “bahasa Indonesia”.
Waktu di Indo, sempat beli beberapa perlengkapan potong rambut. Yang standard kok, tapi gunting zig zag itu wajib karena rambut Ron tebel & perlu ditipisin. Hm…., setelah potong rambut Ron, giliran rambut aku yg dipotong. Taram……. Ini dia jadinya:
Ini ada sedikit oleh-oleh selama aku pergi menghilang.
Sedikit cerita, gambar bunga ini aku bikin untuk kusematkan di thesisku. Berkat kecanggihan teknologi informasi, aku tinggal klik di internet untuk petunjuk bagaimana menggambar bunga dengan pensil, step by step. Sayang, contoh posisi bunga yang aku suka tidak ada arsirannya. Jadi aku ngarang-ngarang aja. Sedikit aneh kalo dilihat pencahayaannya. Tp ga apa-apa lah, yang penting para professor itu suka. Salah satunya bilang: “Kalau kamu ga kerja di bidang ekonomi, bisa jadi pelukis juga donk!”
Ga tahu ya, itu pujian atas gambarku, apa celaan atas thesisku?! Mungkin saking payahnya kemampuan pengetahuan ekonomiku, sehingga gambar kayak gini aja bisa jadi pelarian profesi, hehehehehe.