It s about my ordinary life in my new land….
Semester ini, aku kebagian bikin 1 presentasi ttg Labor Law Indonesia dibandingin ama Swedia. Jadi inget lagi jaman dulu kerja di Bandung, sempat ngurusin buruh & tetek bengeknya.
Waktu itu aku kerja di perusahaan yg lokasinya ternyata sarang preman. Karena wkt itu perusahaan baru berdiri, mk harus rekrut karyawan dll dari awal & aku kecipratan kerjaan tuk jd penanggung jawabnya. Mulai bikin prosedur recruitment-training-dll, persyaratan kerja, sampe kontrak kerjanya.
Trus, suatu hari aku naik angkot ke tempat kerja & lagi jalan depan pabrik, tahu2 di cegat 3 anak muda. Org 1, dia minta diterima kerja di pabrik tempatku kerja. Org 2, sedikit mengancam & protes karena rembuk masyarakat sebelumnya dia ga diundang & minta temennya ini (org 1) diterima kerja di tempatku. Org 3: penggembira.
Mereka pikir, krn aku cewek & berbadan kecil, bisa ditakut2in. Akhirnya, aku tanya data mereka, apa posisi mereka di masyarakat sehingga mereka merasa dilangkahi krn ga diundang ke pertemuan, dll. Kesimpulan, mereka ga punya posisi & pengen pake cara preman tuk kerja di tempatku. Melihat aku balik keras sama mereka, org 1 mulai diam, tp org 2 makin belaga sok jago.
Perbincangan kututup dengan nada balik mengancam: “Trus, kamu sekarang mau apa? Ngancam saya? Kalau mau kerja, ikuti prosedur yg sdh ditetapkan. Kalau mau ngancam saya, silahkan aja. Saya ga peduli! Saya akan catat nama kalian (dlm arti negatif…….).” Aku tinggalkan mereka di luar & minta jangan biarkan mereka masuk halaman pabrik.
Esok harinya, ibu si org 1 ini datang cari aku & sambil nangis2 minta tolong anaknya jangan di diskualifikasi krn kejadian kemaren. Dia benar2 menyesal tindakan temannya itu yg sok jago. Ya, aku jelasin, ga mau mempekerjakan preman yg ga mau ikuti prosedur & mau enak sendiri. Akhirnya, aku setuju tuk tetap memproses anak itu seperti pelamar yg laen.
Hm…., masa2 bertempur dengan preman. Kadang harus hadapi org mabok yg minta duit menjelang hari raya, kadang musti ketemu karyawan yg susah diatur, kadang….. Ga terpikir bisa kena hajar, ga kepikir org mabok ga bisa mikir. Malah kadang, anak buahku di pabrik yg para pria itu lari cari perlindungan & minta aku aja yg maju :”(
Ya…., itu lah masa mudaku. Berhenti kerja dari tempat itu, aku bertekad mau berubah, tidak lagi sok jago menghadang para preman. Ga punya ilmu bela diri apapun, badanku jg ga kebal bahkan oleh jarum sekalipun. Nyawa semata wayang, bukan buat taruhan, layani org sok jago bukan jamannya lagi, bikin org takut udah ga musim lagi.
Membuat mereka takut bukanlah tindakan yg baik. Justru seharusnya, aku melindungi mereka yg dirundung ketakutan. Ya, sebelum aku mampu melindungi mereka, ga ada salahnya kan aku mulai dari menghindari tindakan yg bikin mereka takut.